Yesterday, drafting ideas in Indonesia language
This is an interesting process:
I have done"
- lots of information research/reading
- drafting many times in English
- clarifying ideas in English
- clarifying ideas in Indonesia (yesterday)
- mapping ideas (this morning about 1 1/2 hours
- meeting, telling the process, different structure and current structure (today)
- drafting in English again
Here is the draft Indonesian language:
Nah apa yang ingin saya sampaikan di bagian ini?
(1) Resources
Salah satu implikasi adalah masalah resources.
Diakui bahwa di Indonesia, resources amat terbatas. Tidak jarang kita menemui di banyak sekolah, amat terbatas resources, misalnya perpustakaan, komputer, apalagi akses Internet.
Bagi orang Indonesia, sekolah-sekolah yang di Australia akan dipandang sebagai sekolah yang sangat kaya resources, baik sekolah Ann (yg bagi orang Australia memandangnya terbatas), apalai sekolah Jack (yang mungkin akan dibayangkan sebagai sekolah yang hanya ada dalam mimpi bagi kebanyakan orang Indonesia), atau hanya sekolah yang dapat dinimati oleh orang-orang yang sangat kaya di Indonesia.
Saat ini, pengadaan resources berupa komputer sedang menjadi perhatian. Bru-baru ini di media disebutkan bahwa komputer akan dibeli oleh Diknas untuk sekolah sebanyak..... Informasi dari Jardiknas juga menunjukkan bahwa pemerintah telah mengupayakan berbagai jaringan Internet. Sebagai hasilnya, maka hampir semua diknas di seluruh Indonesia telah terknoneksi dengan Internet, terdapat sekian centre dan sekian sekolah yang terhubung dengan Internet. Dan sebagai akibatnya, semakin banyak pula guru ang telah mengetahui keberadaan Internet meskipun amat terbatas pada email, browsing informasi melalui google.
Pertanyaan yang menarik untuk dijawab adalah, apakah implikasi dari penelitian saya di Australia untuk konteks Indonesia?
Menyediakan infrasturkutu di Indonesia yang sama dengan di Australia tentulah hal yang tidak mungkin. Dana pendidikan bagi Australia sangat besar di bandingkan dengan Indonesia. Sebagai orang Indonesia yang telah menikmati persekolahan di Indonesia mulai SD hingga program master, amat merasakan perbedaan yang jauh, dan mungkin tepat untuk diangkat istilah umum komunitas mahasiswa Indonesia di UQ, bahwa hidup di Australia hanya sebuah bagian dari mimpi orang Indonesia. Sekolah di sini bagaikan surga. Buku-buku bacaan berlimpah baik di perpustakaan daerah, di sekolah, bahkan di rumah-rumah. Bagi orang Indonesia secara umum, mempunyai sebuah teksbook yang dapat dipinjam dari sekolah sudah merupakan sebuah keuntungan. Meskipun ini tidak berlaku bagi orang-orang kaya Indonesia, namun ini amat benar jika kita mengunjungi daerah persekolahan yang ada di daerah-daerah.
Dengan gap yang begitu besar antara Australia dan Indonesia, masih adakah yang dapat kita pelajari dari penelitian ini dalam kaitannya dengan resources?
Mari kita lihat kasus Ann dan Jack.
Bagi standar orang Australia, kelas Jack terhitung sangat kaya. Sedangkan kelas Ann terhitung amat terbatas. Namun pada kenyataanya praktek pengajaran Ann amat kaya dan mampu memanfaatkan resources yang tersedia bagi siswa-siawanya. Sedangkan Jack yang telah tersedia Internet, belum mampu memanfaatkan fasilatas yang tersedia tersebut. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa resources bukanlah kunci kesuksesan pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, yang dikelompokkan pada tiga zone pada bagian di atas. Pengetahuan dan pemahaman serta kepercayaan guru terhadap matematika, pengajaran, pengajaran matematika, teknologi amat sangat besar pengaruhnya pada cara memanfaatkan teknologi yang tersedia.
Bagi guru Australia, mungkin saja bisa memandang bahwa dengan kelas yang seperti Ann, tidak banyak yang dapat dilakukannya. Ann dalam bab 5 saya ungkapkan bahwa di sekolah mereka, semua kelas diperlengkapi 4 komputer tapi pada umumnya guru tidak memanfaatkannya untuk pembelajaran matematika, meskipun Internet telah menawarkan banyak sekali pelajaran matematika. Demikian juga kelas Jack. bagi sebagian guru Indonesia, ini mungkin memandangnya sebagai suatu kelas ideal untuk melakukan pengajaran matematika di kelas, tapi kenyataan bagi Jacjk, bahwa ada banyak faktor sehingga dia tidak memanfaatkannya, bahkan setelah Jack diberi bantuan, ada banyak banyak tantangan yang dihadapi di dalammnya.
Artinya apa? Bukanlah resources yang menjadi kunci, tapi bagaimana guru mampu memanfaatkan resources-resources yang ada. Bagaimana guru bisa selalu melihat peluang-peluang bagaimana menciptakan pembelajaran yang ada.
Bagi pemerintah, yang juga sangat bertanggung jawab pada penyedian fasilitas ini, harus bisa memikirkan lebih jauh, tidak hanya bagaimana menghadirkan resources yang ada, tapi juga bagaimana sehingga resources tersebut dapat termanfaatkan secara optimal oleh guru, antara lain memikirkan tentang PD bagi guru untuk memanfaatkan teknology dalam memperkaya pengajaran dan pembelajaran siswa. Dan hal ini disampaikan pada bagian implikasi berikut: teacher PD
Apakah inti dari cerita di atas? Bisakah saya menarik sebuah benang merah dari cerita di atas? Pikirkan mengapa kesemua hal itu perlu saya ungkapkan. Pikirkan juga, bagaimana hubungan dengan cerita yang dinegara lain tentang teknology yang juga kurang termanfaatkan dan bahkan sudah terjadi keluhan-keluhan?
(2) Indonesian Primary Teacher’s PD
Pengembangan profesi guru, atau lebih umum jika saya katakan pembelajaran guru.
Mengapa ini menjadi satu poin dari implikasi penelitian saya?
Terlepas dari ada tidaknya teknology, pengembangan kualitas guru di Indonesia menjadi hal yang sangat penting. Kualitas para guru di Indonesia amat sangat menjadi perhatian publik saat ini. Khususnya dengan seringnya di bicarakan di media bahwa dari sekitar 2.7 total guru di Indonesia, sekian persent yang dianggap tidak memiliki kualitas yang memadai untuk mengajar.
Tentu ada banyak faktor mengapa kualitas guru di Indonesia rendah? Banyak hal yang sangat mempengaruhi hal ini, antara lain adalah tingkat pendidikan para guru, sistem perekrutan guru, kualitas dari institusi yang mempersiapkan guru, pelaksanaan penataran-penataran yang masih sangat terbatas baik dari aspek jumlah maupun dari aspek kualitas. Dari kalangan guru pun, mereka sering berargumen akan kompleksitas permasalahan yang dihadapinya, yaitu antara lain dengan rendahnya gaji mereka, terbatasnya fasilitas di kelas, tuntutan dari ujian Nasional yang membatas mereka untuk melakukan inovasi-inovasi pendidikan, juga termasuk aspek siswa yang kurang termotivasi. Hal-hal ini seperti yang diungpakan oleh banyak guru matematika di Seminar Nasional guru Matematika se Indonesia pada bulan Agustus 2005.
Demikian kenyataanya dan kenyataan ini sudah sangat jelas menunjukkan betapa pentingnya upaya peningkatan kualitas guru-guru Indonesia dari berbagai aspeknya. Kebijakan terkini dari pihak pemerintah yang memberi tuntutan pada pengembangan kualitas guru semakin menjadi hal yang sangat relevan untuk dibicarakan hal tersebut? Apalagi dengan semakin munculnya tantangan masa depan dimana teknology akan semakin maju, peningkatan kemajuan siswa dalam mengakses Internet sebagai bagian dari lingkungan mereka.
Lalu apa implikasi penelitian saya dalam kaitannya dengan PD guru?
Mari kita cermati temuan penelitian saya. Secara teoritis, telah dikaji potensi Internet sebagai alat pembelajaran guru. Internet sangat potensial untuk menjadi alat PD. Berbagai penelitian yang lalu menunjukkan berbagai cara bagaimana Internet digunakan untuk meningkatkan upaya refleksi guru pada pengajaran, penggunaan email secara lebih terstruktur untuk membantu pengajaran guru di kelas, penggunan Internet untuk membentuk komunitas belajar ara guru di mana mereka dapat sharing pengalaman dan saling bertanya. Dalam penelitian saya, Ann telah menjadikan alat vital dari proses ongoing pembelajarannya. Dia tidak harus lagi menunggu waktu yang lama untuk mengikuti konferesi untuk bertemu dengan guru-guru lain, tapi dengan adanya Internet, dia dapat belajar dari ahli, dari guru lain, dan bisa mendapatkan bahan-bahan belajar yang mendukung pembelajaran dia dan pembelajaran siswanya. Namun demikian, hal yang yang sebaliknya juga telah dibicarakan diberbagai media, tentang di satu sisi tersedianya Internet dan keterbatasan guru dalam memanfaaatkannya. Penelitian saya pun menunjukkan bahwa bagi Jack, yang amat gampang akses Internetnya baik di rumah, maupun di sekolah, bagi Jack yang sangat familiar dengan teknology Internet yang mungkin sama familiarnya orang Indonesia terhadap penggunaan pulpen untuk menulis, namun Jack belum memanfaatkannya dengan maksimal sebagai alat belajarnya.
Dari kesemua ini, apa yang dapat saya katakan untuk implikasi penelitian saya bagi Indonesia.
Kondisi saat ini di Indonesia, yang sudah semakin mendorong guru untuk memanfaatkan teknology dalam pembelajaran perlu dicermati secara saksama. Jika kita telah dihadapkan pada permasalahan pengajaran tanpa teknology komputer atau Internet, sudah terhitung sangat kompleks, maka meminta guru untuk mengintegrasikan Internet dalam pengajarannya adalah bukan hal yang biasa. Upaya penataran yang telah dan sedang dilakukan perlu dicermati. Jika merujuk pada sumber tentang bahan penataran bagi guru-guru adalah (ms word, email, google dll) ini adalah kemampuan mendasar yang sangat teknis. Penelitian telah terdahulu telah mengangkat isu ini bahwa terlatih baik dalam hal ini bukan berarti mampu mengintegrasikan teknology dalam memperkaya pembelajaran di kelas. Penelitian saya menunjukkan satu evidence tentang bagaimana guru memanfaatkan Interet sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan kepercayaanya dan Internet pada kenyataanya dapat memperkaya pembelajaran demikian juga sebaliknya dapat membatasi tercapai embelajaran yang baik.
Dengan kenyataan ini, apa yang harus menjadi erhatian bagi para guru di Indonesia dan pemerintah di Indonesia.
Bagi pemerintah Indonesia, perlu pemikiran bahwa pendanaan tidak hanya disiapkan pada pengadaan resources tapi dana juga harus diprioritaskan pada pengembangan guru. Jika guru diharapkan untuk memanfaatkan Internet secara baik, maka prose pembelajaran guru harus difasilitasi, khususnya bagaimana mensupport guru tersebut untuk bisa mencapai tujuan yang diharapkan. Prinsip-prinsip utama harus diperhatikan yaitu Pd yang ditawarkan harus mempertimbangakan ketiga zone tersebut. Penelitian-penelitian terdahulu tentang bagaimana merubah guru antara lain oleh (misal, Borko, dan Goos) dapat dipertimbangkan dan diadopsi untuk lingkungan Indonesia. Pendekatan penelitian yang diterapkan di sini, juga bisa dipertimbangkan dan bahkan diterapkan di Indobnesia, karena dengan demikian peneliti dan guru pada saat yang sama mengembangkan dirinya dan juga akan memperkaya pemahaman kita bagaimana sebenarnya karakter pembelajaran guru di Indonesia.
(3) Online resources.
Hingga saat ini telah banyak sekali online resources yang telah tersedia di Internet, baik yang telah dirancang sesuai dengan kurikulum maupun yang tidak. Online resources ini bukan hanya menjadi tantangan bagi para penyedia sumber-suber belajar secara tercetak, tapi juga tantangan bagi guru dalam memanfaatkannya, mengadopsinya dalam pengajarannya. Pada Bab 2 telah dikemukan kekayaan online resources yang ada, termasuk kelebihan dan keterbatasannya. mari kita melihat kedua kasus pada penelitian saya.
Bagi Ann, dengan adanya online resources yang beragam, Ann melihatnya sebagai kemanfaatan., karena merupakan alat hebat untuk membantu pengajarannya, untuk membantu dirinya menjalankan tugas melayani kebutuhan anak-anak secara beragam. Ann telah banyak belajar secara langsung dari guru dan kemudian memperkaya pengalamannya melalui belajar lewat Internet dan kemauan untuk mencoba di kelas. Dari daftar 10 website favourite yang ditunjukkan oleh Ann, ternyata Ann menggunakan website yang pada umumnya dikelola oleh departemen atau organisasi profesi.
Pada kasus yang sebaliknya, jack, pada awal penelitian saya, dia tidak mengetahui banyak. Meskipun demikian dia kadang-kadang memanfaatkan Google dalam mencari sumber-sumber, dan di sinilah Jack merasakan bahwa hal ini terlalu butuh waktu yang banyak karena, apa yang muncul, itu tidak dijamin kualitasnya.
Dengan keberadaan saya, Jack kemudian dikenalkan dengan banyak sekali bahan-bahan belajar online. Namun Jack juga ternyata mengahadapi banyak tantangan. Tampak bahwa Jack merasa dengan online resources, cukup berpengaruh pada overloaded informsi bagi dia.
Nah mari kita lihat, bahwa harus diakui sangat overloaded, sangat memberi tantangan. Bagi orang Indonesia yang mampu berbahasa Inggris, hal ini mungkin dapat dirasakan sama. Namun bagi orang Indonesia, mungkin sumber-sumber belajar melalui online masih terbatas. Meskipun informasi lewat onlie sudah dapat disebutkan overloaded, karena banyak online newspaper, blog, dll, tapi untuk bahan belajar, dirasakan oleh para guru masih terbatas. Ada satu contoh upaya yang menyiapkan online yaitu edu net, suatu hal yang baik, namun akses dak kekayaan materi di dalamnya masih perlu ditingkatkan.
Kebermanfaatan online rsources ini juga perlu diteliti lebih jauh. Khususnya adalah hubungan dengan kelambatan akses. Mungkin bisa menjadi pertanyaan, manakah yang lebih baik antara menyiapkan secara online pada mereka atau menyiapkan dalam bentuk CD.
Perlu upaya-upaya melibatkan para pakar dan guru untuk pengembangan ini, sebagaimana telah dilaksanakan di negara-negara maju, atau hal yang sangat relevan adalah memanfaatkan resources ini yang berbahasa Inggrism, khususnya karena bahasa Inggris semakin diperlukan, terbukti dengan kebijakan baru pemerintah dengan mengadakan sekolah Internasional di semua propsinsi Indonesia.
(4) Internet untuk komunikasi dan kolaborasi

0 Comments:
Post a Comment
<< Home