Diary Penelitian PhD

Online diary ini untuk mendokumenkan kegiatan penelitian saya. Maeskipun ide ini terlambat diimplementasikan tetapi saya berharap ini akan bermanfaat dan efektif untuk kerja-kerja penelitian saya selanjutnya

Friday, November 23, 2007

PD models

Ini adalah bagian dari judul besar "The potential future & requirement"

Hal yang perlu saya bicarakan dalam bagian ini adalah pemikiran saya tentang model-model PD yang bagaimana yang seharusnya ditawarkan di konteks Indonesia?

Saya sudah tentu mengacu pada teori "Three zones" yang saya gunakan dalam menganalisis data saya.
Bahwa suatu program PD, harus mempertimbangkan secara hati-hati ZPD dan ZFM guru, yang pada kenyataanya berbeda pada setiap guru.
Dua ksus yang telah disajikan pada penelitian saya cukup kontrast, yaitu di satu sisi, Ann yang berada di sekolah yang fasilitasnya lebih terbatas dan kelasnya yang crowded dan lingkungan yang biasa-biasa saja, dapat menggunakan teknology secara baik karena faktor pedagogi, namun demikian pada kasus Jack, yang berada pada lingkungan yang kondusif, tapi karena keterbatasan lainnya termasuk persepsi dia terhadap pengajaran, guru yang baru yang pemahaman atematika tentunya masih sedang tahap di bangun, maka penggunaan teknology belum mencapai pada tahap maksimal.

Kasus Jack juga menunjukkan, bahwa meskipun saya sangat mempertimbangkan bagaimana kriteria PD yang efektif, namun demikian ternyata proses untuk mengetahui konteks individu guru tersebuat memerlukan waktu, saya ternyata membutuhkan waktu untuk mengetahui, meskipun pada akhirnya ada strategi yang cukup menunjukkan adanya pemicu terjadi konflik antara apa yang Jack pahami dengan tawaran/peluang positif dari Internet tersebut.

kasus jack juga telah menunjukkan fase-fase di mana dia mempunyai keingian namun pada saat yang sama mengalami hambatan-hambatan. Ini mengindikansikan bahwa tahap ini perlu ditangani secara baik, karena ada proses yang namanya mau maju terus atau menjadi merasa stop dengan hal ini.

Jadi, jika demikian, apa artinya bagi membangun kualitas guru di indonesia.
Tidak ada satu cara yang jitu untuk semua guru. Meskipun model yang saya terapkan, memberi manfaat yang sangat banyak (baik dalam hal manfaat bagi peneliti untuk mencermati praktek-praktek pengajaran dan melihat komplesksitas dari sebuah pengajaran), namun tentunya model ini sulit diterapkan untuk setiap orang guru. Ini adalah model yang mahal, model yang memerlukan waktu secara banyak.

Oleh karena itu, yang utama dari sini adalah mengambil pelajaran dari model, bahwa dalam menawarkan PD guru, adalah yang harus dipahami adalah proses pembelajaran guru itu sendiri.

Yang sangat utama atau esensi dari keprofesionalan adalah 'belajar', dan makna belajar pada guru ini harus dimaknai secara benar. Bagaimana cara untuk mendorong terjadinya pembelajaran guru. Ini bisa melalui pemanfaatan Internet, ini bisa melalui workshop, bisa melalui perbincangan-perbincangan, tidak ada satu bentuk. Jika pun ini akan diterapkan pada penataran-penataran, para penatar harus mempertimbangkan semua ini, apa yang sebenarnya telah diktahui guru, pada konteks manakah guru berada, apa kebutuhan guru, lelau dari proses mengenal itu akan dapat dirumuskan jalan keluar bersama, dan di sinilah essnis dari kolaborasi. Demikian juga di sinilah esensi dari ongoing bahwa dengan belajr, seperti yang terjadi pada Ann, distulah esensi dari ongoing, belajar secara terus menrus, dari siswa, dari workshop, daro Internet, dan pada saat ini pembelajaran Ann dicirikan oleh pemanfaatan dari Internet, yang memberikan banyak kebutuhan.

Oppps, tambahan untuk PD model

Kita ketahui bahwa di Indonesia, banyak PD yang berbasis proyek, banyak PD yang top down, yang mana dikembangkan oleh sekelompok orang kemudian meminta para guru melaksanakannya, tanpa memperhitungkannya. Meskipun misalnya pada proyek CTL, dikatakan bahwa harus mempertimbangkan konteks daerah masing-masih, namun pada kenyataanya ini tidak secara mendalam, karena pada hal yang berbasis projek seperti ini, tidak secara mendalam.

IDE baru: saya selaku pengembang proyek CTL yang pertama. Beberapa saya dengarkan keluhan tentang ini, apakah dari para teman-teman punya pemikiran, ide, maupun koreksi.

CTL, kadang-kadang sekolah melaksanakan karena penunjukkan, disediakan perangkat belajar, dan ditatar guru yang ditunjuk.
Semua ini memberikan kelemahan.

Nah, juga pada kasus sosialisasi kurikulum berbasis komptensi, KTSP, jadi guru begitu sibuk melaksanakannya, dari top down, keberhasilannya kurang menjanjikan, sebagaimana muncul di beberapa koran.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home