Mari kita lihat konteks Indonesia
- Negara Indonesia luas, yang terdiri dari ribuan pulau (17.508 pulau) dan berpenduduk lebih dari 234 juta (over 234 millions) people. Dengan total luas daerah diperkirakan 1,919,440 km² (berdasarkan luas, urutan ke-15 di dunia)
- Sedangkan penduduk Australia diperkirakan hingga Nov 2007 adalah 21.144.783, atau sebutlah sekitar lebih dari 21 juta. Dengan total luas negara diperkirakan 7,686,850 km² (berdasarkan luas, urutan ke-6 di dunia)
Persoalan Guru di Indonesia:
- Status guru di Indonesia selama ini dipandang rendah, dengan gaji yang sangat minimal. Beberapa tahun terakhir ini, sudah mulai adanya perhatian pemerintah untuk menganggarkan 20% dana pendidikan di APBN (See UU no ........), tetap disayangkan bahwa implementasi UU tersebut belum terwujud karena anggaran pendidikan masih ......, dibandingkan dengan sebelumnya, anggarannya jauh lebih rendah yaitu ......
- UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menjadi salah satu perhatian publik karena UU ini oleh sebagian orang dipandang sebagai satu upaya nyata untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia.
- Telah banyak upaya-upaya yang dilakukan pemerintah yang menurut mereka untuk meningkatkan mutu guru, misalnya penataran rutin yang dilaksanakan di Balai pelatihan guru, penataran-penataran yang berbasis proyek. Hal ini oleh sebagian orang telah disadari dan dikritisi (e.g Para pakar pendidikan) dan mereka menghimbau bahwa penataran-penataran yang ada jangan berbasis proyek. Dalam hal ini, proyek biasanya punya waktu yang singkat dan punya tujuan-tujuan jangka pendek. Celakanya lagi, menurut pengamatan peneliti bahwa sosialisasi konsep yang dibawah dalam proyek menimbulkan miskonsepsi atau bahkan menimbulkan kebingungan pada para guru. Dan yang lebih disayangkan karena hasil evaluasi proyek tersebut tidak dinformasikan dan sering terjadi bahwa kritikan-kritikan yang ada tidak diperhatikan. Sebagai salah seorang yang pernah terlibat dalam proyek CTL, penulis juga merasakan keterbatasan yang cukup menonjol dan penulis menangkap banyak kritikan guru. Sayangnya, proyek tersebut tidak dievaluasi secara mendalam. Di sinilah jika sistem proyek dijalankan, yang lebih mengedepankan bagiamana proyek tersebut dapat berlanjut sesuai frame waktu yang telah ditetapkan.
- Upaya-upaya perbaikan mutu guru secara lebih hati-hati, terencana, perlu terus dilakukan.
- Lembaga yang mencetak guru juga dikritisi. IKIP yang dulu dikenal LPTK, lembaga pendidikan tenaga kependidikan, kemudian berubah menjadi Universitas, dipandang tidak fokus pada upaya membangun profesionalitas. Yang justru terjadi adalah lembaga ini berlomba-lomba membuka program yang baru. Demikian diungkapkan oleh beberapa mantan rektor IKIP di Indonesia.
- Indonesia juga masih dikenal kekurangan tenaga guru. Sebagai contoh, satu kabupaten di Propinsi Lampung kekurangan sekitar 1000 guru. Dengan adanya kebijakan yang sudah semakin bergeser dari centralisasi menjadi desentralisasi, pemerintah kabupaten diber wewenang untuk merekrutr guru. Cara yang biasa dipakai oleh beberapa kabupaten, yaitu dengan mengangkat guru kontrak atau guru bantu. Mereka perlu mengabdi dengan tidak ada jaminan gaji, atau ada gaji yang sangat minim, dan mereka akan menjadi prioritas bila ada lowongan pengangkatan guru. Ini bisa dibayangkan kualitas guru yang direkrut, yang kadang-kadang tidak mempunyai latar belakang tentang kependidikan (karena bersal dari bidang lain dan tidak mendapat pekerjaan.
- Dua tahu lalu, Feb 2005, Mendiknas menyatakan tentang RUU Guru mengatur tentang kualifikasi dan kompetensi guru. Pada rancangan tersebut, guru harus punya kualifikasi minimal D4 atau S1, harus profesional, yaitu menempuh 30 SKS pendidikan profesi guru dan mendapat sertifikat komptensi guru.
- Pertanyaan: Apakah kenyataan yang terjadi saat ini? Tunggu jawaban pada posting khusus.
- I like this idea "Buku untuk Guru". Berdasarkan pengamatan saya, bahwa sebenarnya guru dilapangan banyak juga yang haus dengan pengetahuan, dengan pembaharuan. Namun sayangnya, sumber-sumber belajar mereka sangat terbatas. Buku yang tersedia di sekolah mereka pada umumnya terbatas pada buku-buku paket. Ini memberikan ide pada saya pentingnya semacam majalah untuk berbagi praktek praktek pengajaran yang baik yang ditulis oleh para guru di Indonesia. Setelah buku itu, jadi, kita bisa minta dana pencetakan dan pembagian secara gratis pada para guru di Indonesia. Mulailah dari materi SD. Yang perlu di cakup di dalamnya juga pendalam konsep tertentu. Namun ini jangan pernah berbasis bisnis, tapi berjiwa untuk membantu guru dalam proses pengajarannya.
- Hal lain, pengedaran ide-ide pengajaran tersebut akan sangat bagus melalui media online. Namun sayangnya karena tidak setiap guru punya akses Internet, maka kita bisa bantu dengan cara menempatkan di CD.
65 % guru tidak memenuhi standar? demikian kata Mendiknas tahun lalu seperti kutipan dari koran Sinar Harapan
"Saat ini masih ada sekitar 65 persen guru yang belum memiliki kualifikasi untuk memenuhi standar nasional pendidikan. Masih banyak guru yang mengajar tidak sesuai dengan bidang keahliannya," papar Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo pada “Seminar Nasional dengan tema Guru dan Masa Depan Pendidikan Indonesia”, Rabu (22/11).

0 Comments:
Post a Comment
<< Home