Diary Penelitian PhD

Online diary ini untuk mendokumenkan kegiatan penelitian saya. Maeskipun ide ini terlambat diimplementasikan tetapi saya berharap ini akan bermanfaat dan efektif untuk kerja-kerja penelitian saya selanjutnya

Friday, January 25, 2008

Menulis adalah bentuk perjuangan

Jika saya belum mampu menyumbang uang dengan jumlah yang banyak, mengapa saya tidak menyumbang ide.

Bukankah banyak hal yang dapat saya tulis, baik dari kehidupan sehari-hari maupun dari pengalaman akademik sebagai mahasiswa PhD, serta pengalaman saya berinteraksi dengan guru-guru yang ada di Australia, juga ide-ide pengajaran yang bisa menginspirasi para guru-guru kita. Ada banyak topik kan yang amat sangat mungkin ditulis. Marilah saya coba brainstorming.



Topik 1: Perlukah kita mengajarkan tentang korupsi?



Tidak ada sekolah korupsi yang mengajarkan orang melakukan korupsi tapi mengapa banyak orang yang korupsi di negara kita? Bukankah ini hal ajaib.

Yang tidak ajaib adalah banyak orang yang bia ceramah agama, karena ada sekolah agama. Banyak orang yang bisa seni karena ada pelajaran kesenian. Ada banyak orang yang bisa jadi akuntan karena ada sekolah akuntan.

Lalu dari mana datanganya para koruptor? dan bagaimana para koruptor itu bisa terbentuk.



Tulisan ini tidak bermaksud mengkaji siapa para koruptor tersebut dan mengapa mereka bisa menjadi koruptor, namun tujuan tulisan ini untuk memikirkan pengajaran tentang korupsi. Mengapa demikian? Bukankah kita sudah muak membaca berita tentang korupsi. Bukankah kita sudah seperti tak percaya mengapa dengan begitu mudahnya seseorang meraup uang rakyat dalam jumlah milyaran?



Justru karena kenyataan itulah penulis menelorkan ide ini. Penulis merasa tidak mempunyai harapan lagi untuk melihat negara kita dengan generasi pemuda-pemudi dan generasi tua bisa bersih dari korupsi. Namun penulis masih punya harapan pada anak-anak sekolah kita yang mungkin dalam 20 tahun ke depan menjadi pemimpin rakyat kita, akan menjadi pejabat-pejabat pengambil keputusan, pelaku bisnis yang handal, atau pun masyarakat biasa yang turut membangun negeri ini. Anak-anak kita adalah manusia terpenting di negara kita, bahkan di dunia ini.



Karena betapa pentingnya mereka, maka saya sangat mendambakan para guru-guru bekerja sama dengan orang tua kita untuk menjaga anak kita dari bibit penyakit korupsi. Kita harus punya strategi supaya anak-anak kita tidak terjangkiti dari virus korupsi yang sungguh sangat ganas. Pertanyaan penting adalah apa yang dapat dilakukan guru kita?

Jawabannya adalah marilah kita mengajarkan mereka tentang korupsi? Loh, itu kan tidak mungkin karena tidak termuat dalam kurikulum. Memang benar, tidak ada pelajaran korupsi dalam kurikulum, tapi bukankah kita dapat mengintegrasikan dalam pembelajaran mata pelajaran lainnya, termasuk pelajaran matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, atau pun pelajaran ilmu sosial, atau bahkan integrasi dari beberapa mata pelajaran.

Sebagai contoh pelajaran matematika. Pertama mari kita lihat tujuan kurikulum matematika, salah satu menyatakan berfikir kritis, bekerja sama, komunikasi dll. Kurikulum kita juga menekankan pentingnya metode pemecahan masalah dan investigasi. Topik-topik matematika yang dimuat dalam kurikulum misalnya tentang bilangan, operasi bilangan (penjumlahan pengurangan, perkalian, dan pembagian), data, statistik, grafik, pengukuran dan lain-lain. Kesemua ini menjadi dasar kita untuk mengajarkan tentang korupsi.

Sekarang apa tujuan kita mengajarkan tentang korupsi? Ada banyak yang dapat dicapai setelah mempelajari selama beberapa kali pertemuan. Bukan hanya tujuan matematikanya tapi juga membangun nilai afketif (misalnya anak menyadari bahaya korupsi, anak memahami dampak korupsi, dengan mengetahui pemetaan korupsi yang ada di sekitar mereka, mereka akan semakin memaknai ancaman korupsi terhadap kehidupan dirinya, keluarganya, dan masyarakat.

Bagaimana proses pembelajarannya? Dalam tulisan ini, saya hanya mengemukakan pokok-pokok pikiran dan para guru bisa mengembangkannya sendiri atau mendiskusikan dengan guru-guru lain.

Beberapa pokok pikiran:

  1. Berilah kesempatan siswa untuk mendiskusikan dan menyepakati tentang definisi korupsi. Dengan demikian, siswa berlatih dalam mengkomunikasikan ide-idenya serta dapat mendapat wawasan dari para temannya tentang korupsi tersebut.
  2. Berilah tugas pada siswa untuk mencari sumber-sumber yang memuat berita korupsi, dapat melalui Internet maupun dari koran-koran. Para guru dapat saja meminta mereka menuliskan apa yang telah mereka ketahui tentang korupsi. Para guru dapat merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan pada tujuan, misalnya, sekelompok siswa mengumpulkan data tentang jumlah korupsi dalam 3 tahun terakhir. Ini sudah melibatkan anak bekerja dengan bilangan, operasi bilangan, grafik dan pada saat yang sama mereka bisa sadar kondisi bangsanya sendiri.
  3. Dalam mengajukan data-data tersebut, jangan lupa menantang para siswa untuk berfikir kritis, misalnya sejauh mana validitas dari data yang dikemukan. Jangan-jangan dari mereka ada berinisiatif untuk bertanya pada sumber berita, atau meminta persepsi masyarakat dengan cara interview.
  4. Para guru harus melibatkan siswa dalam aktivitas secara langsung, menciptakan kesempatan yang banyak agar siswa bekerja sama, berkomunikasi, terlibat dalam berfikir dan melatihkan mereka membangun argumen-argumen yang kuat.
  5. Jika guru mau menyiapkan sumber bacaan yang bertolak belakang, misalnya berita laporan keungan yang detail dari suatu kabupaten yang dikenal jujur dan berita kabupaten yang sudah ditengarai korupsi besar. Anak dilibatkan dalam membandingkan bilangan-bilangan tersebut dan menganaisis dampaknya.
  6. Dampak korupsi juga dapat dikaitkan dengan kehidupan siswa-siawa kita secara langsung. Misalkan saja uang satu juta (untuk level kelas lebih rendah) dan uang satu milyar (untuk level kelas atas. Anak akan diajak memahami bilangan tersebut "number sense", seberapa sih uang sebegitu. Hal ini dapat dengan cara mengidentifikasi kebituhan di sekolahnya. Mereka mungkin akan mengerti uang satu milyar tersebut dapat dibelikan ratusan komputer dan ribuan buku untuk kebutuhan beratus-ratus siswa, dan membangun lapangan olahraga yang memadai bagi merea.

Dengan cara-cara di atas, diharapkan anak bisa mengerti lebih cepat permasalahan-permasalah masyarakat, mengkritisi kejadian-kejadian yang ada di sekitar mereka, memahami bahaya dari korupsi. Pembelajaran ini bukan hanya membawa anak tertarik dengan belajar matematika (karena ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari), bukan hanya membantu mereka memahami konsep-konsep matematika (bukankah matematika adalah bagian hidup yang ada di mana-mana?), tetapi juga membangun moral mereka dan membantu siswa agar imun terhadap virus korupsi.

Jadi jangan heran, jika pelajaran ini diterapkan, maka para koruptor-koruptor terselubung yang notabene mulai merasuki pejabat sekolah akan semakin berhati-hati atau membatalkan niatnya untuk korupsi.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home