Guru Surabaya Langganan Jeblok
Sumber: Surya
Saturday, 15 December 2007
SURABAYAAnggapan banyak pihak bahwa guru di Surabaya tidak profesional dan kualifikasinya rendah bisa jadi sangat benar adanya. Hasil sertifikasi guru yang dilakukan Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menjustifikasi hal itu. Selama tiga kali uji portofolio, jumlah guru di Surabaya yang tidak lulus angkanya selalu lebih separo atau di atas 50 persen dari peserta total sertifikasi. Kalau sertifikasi kuota 2006, dari 571 guru SD dan SMP yang berkasnya diuji portofolio, yang lulus hanya 228, sementara yang gagal 342 guru (59,8 persen). Jumlah guru yang tidak lulus semakin tinggi pada sertifikasi kuota 2007. Dari 796 guru TK dan SD diuji portofolionya, yang lulus hanya 270 orang, sementara yang gagal 511 orang (64,1 persen). Terbaru, hasil sertifikasi guru SMP, SMA, SMK, dan SLB kouta 2007 juga menegaskan rendahnya kualitas guru Surabaya. Dari 1.091 peserta, yang lulus hanya 450 (41,25 persen), sementara yang gagal alias tidak lulus 597 (54,72 persen). Rinciannya, 459 guru SMP yang lulus 200 (43,57 persen) dan gagal 250 (54,47 persen), 375 guru SMA yang lulus 148 (39,47 persen) dan gagal 207 (55,20 persen), 224 guru SMK yang lulus 88 (39,29 persen) dan gagal 125 (55,80 persen), dan 33 guru SLB yang lulus 14 (42,42 persen) dan gagal 15 (45,45 persen). Jumlah tersebut di luar 36 guru harus melengkapi berkas, lima klarifikasi, dan tiga berkas guru dibatalkan. Hasil ini lagi-lagi menempatkan Surabaya sebagai daerah dengan jumlah guru tertinggi yang tidak lulus dibandingkan enam kabupaten/kota di Jatim yang uji portofolionya dinilai tim asesor Unesa dan diumumkan, Kamis (13/12) lalu.Menanggapi hal itu, Plh Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Drs Ruddy Winarko MM MBA mengatakan banyaknya guru di Surabaya yang gagal sertifikasi akibat kurangnya kesadaran untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme mereka. Ketika diundang untuk mengikuti penataran, pelatihan, dan seminar, guru seringkali menolak mengikutinya dengan berbagai alasan. “Sikap menyepelekan untuk mengikuti kegiatan atau forum yang menunjang profesinya itulah yang selama ini sering terjadi,” ujar Ruddy kepada Surya, Jumat (14/12).uji

0 Comments:
Post a Comment
<< Home